Loading...

Rabu, 14 Desember 2016

Setiap Kali Tetangga Jemur Pakaian Dalam Merahnya, Pasti Suamiku Lembur, Apakah Benar…!?

author photo
Kok bisa ya ada cowok kayak gitu ya!?
Sejak pasutri ini cekcok, kamar 502 gedung sebelah menjadi kosong dan sepi. 3 bulan sebelumnya, datang penghuni baru, seorang wanita muda yang sepertinya memiliki karakter yang high class.
Aku menikah dengan Jim dan kita sama – sama bekerja keras beli apartmen di lantai 402. Aku hamil dan mau gak mau, aku harus tinggal di rumah seorang diri untuk menjaga janin ini dan suamiku bekerja sebagai direktur satu perusahaan.
Kerjaku tiap hari kalau gak beli sayur dan masak, ya nonton film korea kesukaan. Sampai satu hari suamiku membelikan aku kursi tidur yang aku telakan di teras untuk melihat pemandangan. Sejak saat itu aku hobi sekali duduk di teras seharian melihat tetangga – tetangga. Di lantai 3, ada seorang brondong yang berotot. Setiap pagi dia pasti latihan otot dengan barbelnya. Gak heran sih otot – otot nempel di sana menghiasi tubuhnya. Itupun jadi pemandangan yang tak boleh dilewatkan setiap hari. Dan sebrangku yang adalah seorang wanita, dia sepertinya single dan bekerja freelance, soalnya tak pernah sekalipun aku melihat dia keluar dari rumah kecuali hanya ke supermarket bawah beli bahan makanan.
Dia cantik bak model, aku yang seorang wanita pun suka melihatnya, sampai aku gak sadar kalau setiap hari, aku terus memperhatikan dia, apa yang dia lakukan, apa yang dia jemur, kapan dia jemur baju, baju dia merek apa, dandanan dia bagaimana? Semua aku perhatikan. Tentu saja ini diluar sepengetahuan suamiku.
Semakin aku memantau dia, semakin aku merasa aku kenal dengan wanita cantik 502 itu. Satu hari, suamiku yang memiliki kebiasaan akan tulis kalau dia lembur di kalender rumah. Hari itu adalah hari lemburnya, dia pamitan kepadaku kalau dia akan malam pulang karna lembur. Tetapi anehnya, kenapa setiap kali Jim lembur, wanita sebrang pasti jemur pakaian dalamnya yang merah jambu seksi itu? Setiap kali! Aku mencoba berpikir positif ah mungkin hanya perasaan dan kebetulan saja. Tapi makin hari makin "dipaksa" kebetulannya. 
Satu hari dimana si wanita jemur pakaian dalam merahnya itu lagi, aku pun lihat kalender dan ternyata benar suamiku lembur. Malam itu aku mencoba pergi ke sana, dengan perut buntingku yang besar, pelan – pelan aku menggapai rumahnya. Aku ketuk pintu, wanita ini buka,"Siapa ya? Ada yang bisa aku bantu?"
"Oh maaf neng, aku hamil tua, supermarket bawah sudah tutup malam gini, dan karna lapar, aku mau masak sayur, tapi kecapku habis. Bisa gak aku minta kecap terus besok aku balikin? Aku dari kamar 404.", tanyaku polos.
Sponsored Ad
Dia pun mempersilahkan aku masuk sembari menunggu dia ambil kecap dari dapur. Iya saja, aku melihat sepatu Jim di sana! Aku duduk di ruang tamu dimana sepertinya ruang tidur ada di seberang ruang tamu, aku pun ambil ponsel aku telepon Jim, suamiku.
"Halo pa, masih lembur ya? Sekarang dimana?", tanyaku.
"Oh iya ma… Ini lagi tunggu client datang. Disuruh temenin client besar kantorku. Malam ini aku pulang malam banget pokoknya, jadi kamu jangan lupa makan ya ma, muah…", begitu jawabnya dengan suara lantang yang bisa aku dengar dari ruang tamu yang dimana suara itu berasal dari ruang tidur utama.
Aku menangis di situ… Dan pembicaraan kita itu dilihat jelas oleh wanita yang berdiri terpaku di pintu dapur. Aku pamit tanpa berkata apa – apa. Aku shock ntah harus berbuat apa. Suamiku pulang dan melahap semua masakanku tanpa merasa ada yang salah. Minggu depan, si wanita model cantik itu sudah pindah. Kamar 502 sudah kosong tak berisi. Namun luka dihatiku tetap ada.
Apa yang harus aku lakukan teman – teman?

@Cerpen.co.id
loading...

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Loading...