Loading...

Minggu, 30 Juli 2017

Dengan Pria Beristri Ini, Aku Rela Jadi yang Kedua atau Kesepuluh Asal Selalu Bersamanya

author photo
Dengan Pria Beristri Ini, Aku Rela Jadi yang Kedua atau Kesepuluh Asal Selalu Bersamanya

BANGKAPOS.COM - Wati bukan nama sebenarnya, tak berniat menjadi istri kedua.
Terlebih sampai merusak rumah tangga orang lain.
Tetapi menurutnya, menjadi istri pertama dari pria tak bertanggung jawab jauh lebih menyakitkan.
Dengan suami yang kedua, dia rela jadi istri kedua atau bahkan kesepuluh selalu bersamanya.
Pengalaman ini dikisahkan Wati sebagai curahatan hatinya yang selama ini terpendam.
Wati merupakan ibu dengan seorang putri dari suami pertama.
Dia menikah saat berumur 20 tahun karena terpaksa mengikuti kehendak orangtua.
"Mereka sudah malu dan geram melihat kelakuan dan kenakalanku," ungkapnya seperti yang diungkapkan di ceritacurhat.com.
Berikut isi curhatnya:
Di kelas 1 SMA aku sudah tidur dengan pacarku yang akhirnya jadi suami pertamaku.
Itu kulakukan di kamarku sendiri, sampai akhirnya kami ketahuan oleh orangtuaku.
Akhirnya sesudah lulus SMA aku resmi menikah.
Sebulan dua bulan kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja, namanya juga pengantin baru.
Tapi beberapa bulan kemudian, banyak sekali perbedaan antara aku dan suamiku.
Suamiku orang yang sangat pemalas dan tidak mau bekerja.
Selain itu, perhatian dan kasih sayangnya pun tak pernah ia tunjukkan. Hingga aku hamil dan melahirkan pun tetap saja seperti itu.
Dari sejak hamil aku terbiasa bekerja sendiri karena suamiku tak pernah mau menolong, dan kalau sudah bicara tentang uang, pertengkaran pun selalu terjadi.
Sepuluh tahun aku lalui hidup yang seperti itu, apapun pedihnya selalu kutahan karena tak ingin rumah tanggaku hancur.
Aku selalu mencoba bersabar dan bersabar walaupun kadang muak dengan kelakuan suamiku yang tak pernah berubah.
Tapi ternyata keteguhanku luluh juga ketika aku berkenalan dengan seorang laki-laki beristri dengan tiga anak.
Awalnya kami berteman kemudian bersahabat.
Aku sering curhat dengannya dan sesekali meminjam uang untuk membayar utangku.
Orangnya asyik dan nyambung diajak ngobrol.
Dari sering curhat dan cocok satu sama lain, akhirnya terjadilah hubungan yang seharusnya tak boleh terjadi.
Aku berstatus istri orang dan dia berstatus suami orang.
Tapi kami seperti tak peduli karena sudah yakin dengan hati masing-masing dan saling mencintai.
Pernah sekali dia bertanya padaku apakah mau jadi yang kedua.
Dengan mantapnya aku menjawab ” ya”. Dia dan suamiku sangat jauh berbeda, semua yang kuimpikan dari suamiku ada padanya.
Perhatian dan kasih sayang yang tulus darinya membuatku menjadi seorang wanita yang sangat bahagia.
Dua tahun berlalu akhirnya suamiku tahu juga, dia akhirnya pergi dari rumah.
Kesempatan ini tak kusia-siakan sedikit pun, karena dari dulu aku ingin pergi darinya tapi tak pernah ada kesempatan.

Saat suamiku ingin kembali lagi aku menolaknya, walaupun dia telah menyesali semua kesalahannya aku tetap menolaknya.
Rasa cinta dan sayangku untuknya telah lama hilang, memudar seiring waktu.
Bagiku kesempatan itu hanya sekali, kalau aku masih menerimanya maka selamanya aku takkan bisa lepas darinya.

Untuk apa mempertahankan kalau akhirnya hanya akan saling menyakiti lagi.
Setelah setahun akhirnya perceraianku selesai, dan selama itu aku selalu didampingi olehnya.
Dengan pertimbangan yang sangat matang dan keyakinan yang kuat, habis masa iddah ku akhirnya aku nikah siri dengannya karena sampai sekarang istrinya tak tahu.

Kami sangat bahagia karena berbeda dengan pernikahan sebelumnya.
Sebelum menikah kami saling meyakinkan diri dan sangat banyak pertimbangan sampai akhirnya memutuskan menikah.
Aku rela jadi istri yang kedua ataupun kesepuluh asalkan bersamanya.

Walaupun banyak halangan dan cobaan selalu kami hadapi berdua dengan senyuman ataupun tangisan.
Maafkan aku, kalau suatu saat kau tahu entah apa yang akan terjadi.
Tapi suamimu pun tak ingin meninggalkanku dan takut kehilanganku.
Jadi aku bisa apa? karena aku pun begitu. Maafkan aku.

Pengalaman hidup tersebut setidaknya bisa menjadi pelajaran hidup, agar menjaga diri dari perbuatan terlarang.
Manfaatkan masa muda untuk berbuat yang baik-baik sehingga akan memetik hasil yang baik pula.

loading...

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Loading...